Ruang Damai Ajak Remaja & Masyarakat Untuk Kritis Menyikapi Narasi Kejahatan

Redaksi Indonesia News
0



JAKARTA, INDONESIANEWS.MY.ID (15-10-2026)
- Perkembangan teknologi digital memperluas peran bahasa dan literatur dalam kehidupan masyarakat. Setiap individu kini dapat menjadi penerima sekaligus pembuat dan penyebar informasi, sehingga tulisan, komentar, video, dan berbagai narasi dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Kondisi ini membuka ruang yang besar untuk menyebarkan pesan perdamaian, tetapi juga mempermudah penyebaran hoaks, ujaran kebencian, provokasi, narasi eksklusif, hingga literatur ekstrem yang dapat memperkuat intoleransi, menormalisasi kekerasan, dan mendorong polarisasi. 

Literatur ekstrem dapat hadir dalam bentuk teks maupun visual dengan menggunakan bahasa manipulatif untuk membangun rasa takut, kebencian, atau pembenaran terhadap kekerasan. Karena itu, kemampuan memahami konteks, menggunakan bahasa secara bertanggung jawab, serta mengenali dan mengkritisi narasi ekstrem menjadi penting untuk membangun budaya perdamaian, terutama di ruang digital. 

Yayasan Ruang Damai sebagai organisasi masyarakat sipil yang bergerak dalam isu toleransi, perdamaian, inklusivitas, dan pencegahan ekstremisme kekerasan memandang bahwa membangun budaya perdamaian juga perlu dilakukan melalui narasi yang hadir dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Bincang Damai: Bahasa dan Literatur dalam Membangun Budaya Perdamaian dihadirkan sebagai ruang untuk membahas bagaimana bahasa dan literatur dapat digunakan sebagai sarana membangun pemahaman, memperkuat empati, serta menciptakan komunikasi yang lebih inklusif.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang yang beragam untuk memberikan perspektif mengenai hubungan antara bahasa, literatur, media, narasi, dan budaya perdamaian. Pada akhirnya, bahasa dan literatur bukan sekadar sarana untuk menyampaikan pesan, melainkan juga dapat menjadi ruang untuk membangun jembatan antarmanusia. Dengan penggunaan bahasa yang lebih bijak dan pengembangan literatur yang menghadirkan keberagaman perspektif, setiap individu dapat mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif, aman, dan damai. Melalui forum ini, diharapkan tercipta pemahaman dan inspirasi bagi peserta untuk menjadikan kata-kata dan narasi sebagai bagian dari upaya bersama dalam membangun budaya perdamaian yang berkelanjutan. 

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang ahli di bidangnya, yakni Dian Purnomo (Penulis & Peneliti) dan AKP Irsal Hamdani (Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri) dan dihadiri 78 peserta dari kalangan aktivis, mahasiswa dan generasi muda dari berbagai komunitas.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, menyampaikan bahwa fenomena True Crime Community (TCC) atau komunitas pencinta kisah kriminal nyata. TCC ini tidak hanya berpotensi mengedukasi dan meningkatkan kesiapsiagaan publik, tetapi juga berisiko menjadi hiburan komersial yang memicu kekerasan jika disampaikan tanpa empati. 
“"Fenomena True Crime Community (TCC) menghadirkan tantangan tersendiri bagi budaya literasi kita. Pembahasan TCC memang dapat memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan publik. Namun, ketika narasi tersebut disampaikan tanpa empati, ia berisiko mengubah tragedi kemanusiaan menjadi tontonan hiburan yang justru dapat memicu kekerasan baru”.
Dian Purnomo soroti fenomena masyarakat yang kian terlena oleh kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) serta dorongan fomo terhadap tren digital. Kondisi ini dinilai berpotensi menumpulkan kemampuan berpikir kritis publik jika tidak diimbangi dengan tradisi literasi yang kuat.

"Orang tua bisa memulainya dengan membatasi penggunaan handphone dan membuka ruang dialog yang lebih hangat bersama anak. Melalui interaksi inilah kemampuan berpikir kritis terbentuk, sekaligus mempererat ikatan keluarga," ujarnya.

Dari sudut pandang keamanan publik, AKP Irsal Lathief Hamdani dari Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri membeberkan fenomena baru dalam penyebaran narasi ekstremisme kekerasan (Violent Extremism). Menurutnya, propaganda terorisme saat ini tidak lagi selalu disampaikan secara kaku, melainkan menyusup lewat fenomena composite (kombinasi berbagai ideologi kekerasan), aksi copycat (peniruan aksi kejahatan masa lalu), hingga konten slop. Konten slop sendiri merupakan sajian media sosial yang dikemas absurd, jenaka, dan akrab dengan gaya hidup remaja, namun secara subliminal menyebarkan simbol serta figur ekstremis.

Lebih lanjut, AKP Irsal menggarisbawahi bahwa strategi terorisme masa kini telah bergeser dari pola klandestin (sembunyi-sembunyi) menjadi ekspresif atau ingin tampil di permukaan. Para pelaku kerap memberikan sinyal atau keinginan meneror secara implisit di media sosial. 
"Pola terorisme saat ini sudah berubah pesat dibanding masa lalu. Jika dulu bergerak secara sembunyi-sembunyi, kini pelakunya justru ingin terlihat menonjol dan cenderung menyampaikan niat atau ancaman terornya secara implisit di ruang publik digital," tegas AKP Irsal Lathief Hamdani.

Oleh karena itu, sinergi antara orang tua, guru, dan lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengenali indikasi kerentanan anak serta membentengi mereka dengan nalar kritis dan daya empati.

Melalui forum dialog ini, Ruang Damai berharap para peserta terutama generasi muda yang aktif mengonsumsi dan memproduksi konten di media sosial terinspirasi untuk menjadikan kata-kata, tulisan, dan konten digital sebagai sarana menyebarkan empati, mendukung keadilan, serta menciptakan budaya damai yang berkelanjutan.

(Red. AMU)



Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

INDONESIANEWS.MY.ID

Media Indonesia Maju
To Top