Di usia yang relatif muda, Agus Pulung Sasmito telah menorehkan pencapaian di dunia akademik internasional. Putra daerah asal Desa Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, ini berkarier sebagai assistant professor di Departemen Teknik Pertambangan dan Material McGill University, Montreal, Quebec, Kanada.
Perjalanan Agus menjadi pengajar dan peneliti di salah satu universitas terkemuka dunia tersebut tidak terlepas dari rekam jejak akademiknya. Ia telah memublikasikan sedikitnya tiga buku, 22 jurnal ilmiah, serta 19 makalah konferensi internasional.
Namun, pencapaian itu bukanlah hasil dari perjalanan yang selalu mudah. Di balik karier akademiknya, Agus melewati proses panjang, mulai dari menempuh pendidikan di dalam negeri, melanjutkan studi ke Singapura, melakukan penelitian di Uni Emirat Arab, hingga akhirnya berlabuh di Kanada.
Menapaki Pendidikan dari Wonosobo
Agus merupakan lulusan SMA Negeri 1 Wonosobo. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi sarjana di Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan lulus pada 2005.
Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke National University of Singapore (NUS), Singapura, melalui beasiswa untuk menempuh pendidikan magister.
Di tengah perjalanan studi tersebut, Agus mendapat kesempatan yang mengubah arah pendidikannya. Saat memasuki semester ketiga, dosen pembimbingnya menawarkan jalur peningkatan studi dari jenjang magister ke doktoral tanpa harus menyelesaikan program S2 terlebih dahulu.
Kesempatan itu diambilnya. Pada Agustus 2010, Agus menyelesaikan proses studinya. Ia masih harus menunggu sekitar delapan bulan sebelum menjalani ujian doktoral. Pada Maret 2011, ia akhirnya dinyatakan lulus ujian S3.
Masa menunggu ujian tidak membuatnya berhenti berkegiatan. Agus bekerja sebagai peneliti di M3TC, NUS, hingga awal 2012. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari prosesnya membangun kapasitas sebagai peneliti di lingkungan akademik internasional.
Dari Singapura ke Kanada
Setelah bekerja di Singapura, Agus pindah ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, untuk melanjutkan penelitian pascadoktoral di Masdar Institute. Institusi tersebut berfokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan serta memiliki keterkaitan akademik dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat.
Pengalaman riset di Singapura dan Abu Dhabi menjadi bekal bagi Agus untuk melangkah ke jenjang karier akademik berikutnya.
Pada pertengahan 2013, ia mengirimkan lamaran untuk posisi profesor ke tiga universitas, yakni Khalifa University di Abu Dhabi, Aalto University di Finlandia, dan McGill University di Kanada.
Ketiga lamarannya diterima. Setelah mempertimbangkan pilihan yang tersedia, Agus memutuskan bergabung dengan McGill University dan mulai bekerja di institusi tersebut pada Januari 2014.
Di McGill University, ia mengembangkan karier akademiknya di bidang teknik pertambangan dan material. Pencapaian tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana perjalanan pendidikan dan pengalaman penelitian lintas negara dapat membuka peluang untuk berkiprah di lingkungan akademik global.
Ketekunan di Balik Pencapaian
Meski kini berkarier di universitas ternama, Agus tidak menampik bahwa perjalanan menuju keberhasilan diwarnai masa-masa sulit.
Ia pernah menghabiskan banyak waktu di laboratorium, bahkan menginap di sana demi menyelesaikan penelitian. Hari libur dan akhir pekan pun kerap digunakan untuk bekerja.
Pengalaman itu mengajarkannya bahwa keberhasilan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Ketekunan, strategi yang tepat, pola pikir sistematis, serta dukungan keluarga turut berperan dalam menjaga konsistensi selama menjalani proses panjang.
“Kadang down itu wajar, tapi yang penting jangan menyerah. Lakukan yang terbaik, perbaiki strategi dan berpikir sistematis, itu kuncinya. Yang utama adalah doa orang tua, saya bisa bertahan sampai sekarang seperti ini tidak lain karena doa dan usaha orang tua,” tutur Agus.
Baginya, menghadapi kesulitan bukan berarti harus berhenti melangkah. Ketika menemui hambatan, seseorang perlu mengevaluasi cara kerja, memperbaiki strategi, dan tetap berusaha mencapai tujuan.
Pesan untuk Generasi Muda Wonosobo
Agus juga memiliki pesan bagi generasi muda, khususnya anak-anak muda di Wonosobo yang ingin mengembangkan diri dan meraih kesempatan di tingkat nasional maupun internasional.
Ia mendorong mereka untuk berani memiliki cita-cita besar dan tidak membatasi kemampuan diri hanya karena berasal dari daerah.
Bagi Agus, tidak ada mimpi yang terlalu tinggi selama seseorang bersedia berusaha dan terus mencari peluang.
“No dream is too high,” pesannya.
Ia mengingatkan pentingnya melakukan yang terbaik, tidak mudah menyerah, serta jeli melihat kesempatan yang tersedia. Kreativitas dan inovasi, menurutnya, juga perlu dikembangkan dengan menyeimbangkan kemampuan berpikir analitis dan kreatif.
Di sisi lain, Agus menekankan bahwa pencapaian akademik dan profesional harus diimbangi dengan perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental. Bekerja keras tidak berarti mengabaikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat.
Ia menyarankan agar pekerjaan diseimbangkan dengan kehidupan religi, kegiatan penyegaran atau refreshing, serta asupan nutrisi yang memadai untuk menjaga kebugaran.
Perjalanan Agus Pulung Sasmito menunjukkan bahwa latar belakang daerah bukanlah batas untuk meraih kesempatan global. Dari Kalibeber, Wonosobo, ia menapaki pendidikan dan penelitian lintas negara hingga membangun karier akademik di Kanada.
Pesannya sederhana, tetapi relevan bagi generasi muda: berani bermimpi, terus belajar, memperbaiki strategi ketika menghadapi hambatan, menjaga keseimbangan hidup, dan tidak melupakan doa serta dukungan orang tua.
Tulisan ulang dari sumber: https://wonosoboekspres.wordpress.com/2015/03/26/profesor-muda-wonosobo/



0 Komentar