Belasungkawa Mendalam dan Refleksi Bangsa atas Meninggalnya Affan Kurniawan

Redaksi Indonesia News
0

Belasungkawa Mendalam dan Refleksi Bangsa atas Meninggalnya Affan Kurniawan


Oleh : Independen Wartawan Jurnalis Reporter Indonesia (IWAJRI)

Jakarta, 29 Agustus 2025 – Malam kemarin, kota kita kembali diselimuti duka yang berat. Di tengah gelombang aspirasi yang berkumandang di jalanan, sebuah tragedi menimpa seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. Kehidupannya terenggut sekejap oleh sebuah kecelakaan yang terjadi di tengah demonstrasi. Berita ini bukan sekadar catatan di media; ia adalah luka yang menjerat hati keluarga, sahabat, dan seluruh warga yang menyaksikan atau mendengar kabar duka ini.

Di jalanan yang basah oleh lampu-lampu strobo, terdengar bisik-bisik yang sedih; bukan sekadar klakson yang memecah malam, melainkan tangisan kota yang kehilangan salah satu putranya.

Independen Wartawan, Jurnalis, dan Reporter Indonesia (IWAJRI) segera menyuarakan keprihatinannya. Ketua Umum IWAJRI, Ariasa Supit, mengungkapkan belasungkawa yang tulus, menyentuh, dan penuh perhatian:

“Kami turut berduka cita atas kepergian Affan Kurniawan. Kehilangan ini bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga duka bagi kita semua sebagai bangsa. Semoga Allah SWT menempatkan Affan di tempat terbaik dan memberikan kekuatan kepada keluarga untuk menghadapi kesedihan ini”

Ucapan Ariasa menjadi jembatan moral bagi bangsa: suara kemanusiaan yang menuntut kita berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan merasakan kesedihan bersama. Dari keprihatinan ini, pandangan kita beralih ke puncak kepemimpinan bangsa, di mana peran negara diuji dalam tragedi kemanusiaan.

Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, dalam pidatonya yang disampaikan pada Jumat, 29 Agustus 2025, mengekspresikan kesedihan yang mendalam, sekaligus menegaskan komitmen negara untuk hadir di tengah duka warganya:

“Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Shalom.
Salve.
Om Swastiastu.
Namo Buddhaya.

Saudara-saudara sekalian,
Saya telah mengikuti perkembangan beberapa hari ini, terutama peristiwa tadi malam, di mana terjadi demonstrasi yang mengarah kepada tindakan-tindakan anarkis.
Juga ada peristiwa di mana seorang petugas menabrak pengemudi ojek online yang mengakibatkan almarhum Affan Kurniawan tadi malam meninggal dunia.
Atas nama pribadi dan atas nama Pemerintah Republik Indonesia, mengucapkan turut berduka cita dan menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.
Saya sangat prihatin dan sangat sedih terjadi peristiwa ini. Pemerintah akan menjamin kehidupan keluarganya, serta memberikan perhatian khusus kepada baik orang tuanya, adik-adik, dan kakak-kakaknya.
Sekali lagi, saya terkejut dan kecewa dengan tindakan petugas yang berlebihan. Saya telah memerintahkan agar insiden tadi malam diusut secara tuntas dan transparan, serta petugas-petugas yang terlibat harus bertanggung jawab. Seandainya ditemukan bahwa mereka berbuat di luar kepatutan dan ketentuan yang berlaku, kita akan ambil tindakan sekeras-kerasnya sesuai hukum yang berlaku.
Aspirasi yang sah, silakan untuk disampaikan. Kita akan perbaiki semua yang perlu diperbaiki”.

Di balik kata-kata tegas Presiden, terdapat irama duka yang hening; seperti doa yang menyelimuti malam, menegaskan bahwa negara hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pelindung kehidupan.

Langkah nyata berikutnya datang dari Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang bertemu langsung dengan orang tua almarhum Affan Kurniawan. Dalam pertemuan ini, Kapolri menyampaikan permintaan maaf secara pribadi, sekaligus menegaskan komitmen penuh aparat untuk menegakkan keadilan dan melindungi keluarga korban. Pertemuan ini menjadi simbol nyata: negara hadir dengan empati, bukan sekadar retorika, dan tragedi ini harus ditanggapi dengan tindakan konkret, bukan hanya belasungkawa.

Di ruang yang sunyi, terdengar napas berat keluarga yang berduka. Setiap kata permintaan maaf Kapolri adalah pengingat bahwa tanggung jawab negara bukan hanya pada hukum, tetapi juga pada hati yang terluka.

Tragedi ini memaksa bangsa untuk merenung: penanganan demonstrasi harus berubah total. Tata cara pengamanan dan protokol keselamatan dalam aksi massa harus ditata ulang. Aparat dituntut bertindak tegas namun manusiawi, sehingga hak pengunjuk rasa dan masyarakat yang tidak terlibat tetap dijaga. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang aman bagi semua, bukan tempat risiko nyawa menjadi taruhan.

Gelap malam menjadi saksi, namun bukan untuk diam. Tragedi Affan adalah panggilan agar setiap nyawa menjadi nilai utama, agar setiap langkah aparat dan masyarakat dijalankan dengan hati, bukan hanya dengan hukum dan kekuatan.

Kepergian Affan Kurniawan menjadi pengingat kolektif: setiap nyawa adalah amanah. Dari tragedi ini lahir refleksi mendalam, bahwa bangsa ini harus belajar, memperbaiki tata kelola publik, dan menegakkan keadilan dengan hati nurani. Independen Wartawan, Jurnalis, dan Reporter Indonesia menegaskan: kita berduka, namun suara kita akan tetap tegak untuk keadilan dan kemanusiaan.

Semoga kepergian Affan menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif: demokrasi harus dilindungi, setiap nyawa dijaga, dan bangsa ini terus menegakkan kemanusiaan di atas segalanya.



Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

INDONESIANEWS.MY.ID

Media Indonesia Maju
To Top